Tahapan budidaya kopi
1. Persiapan tanam dan penanaman
a. Pohon kopi mempunyai karakteristik tumbuh dibawah naungan pohon yang lebih besar karena kebutuhan pencahayaan untuk pertumbuhanya hanya membutuhkan kurang lebih 30% cahaya dalam proses potosintesinya. Untuk itu sebelum penanaman pohon kopi di areal yang akan ditanami harus ditanam dulu pohon pelindung yang fungsinya sebagai filter cahaya matahari supaya tidak masuk secara berlebihan. Adapun jenis pohon yang dianjurkan adalah Family leguminacea ; seperti lamtoro, kalindri atau bisa juga seperti jenis dapdap.
b. Setelah pohon pelindung tumbuh sekitar 1-6 bulan menjelang musim hujan buatlah lubang untuk tanam kopi dengan ukuran(panjangxlebarxdalam) 60x60x60cm kemudian masukan pupuk kandang(domba,sapi) dan daun/rumput2an kedalam lubang kurang lebih 5-10kg/lubang kemudian ditutup oleh tanah bekas galian.
c. Jarak tanam ideal untuk penanaman pohon pelindung adalah 10x10m sedangkan untuk penanaman kopinya adalah 2,5x2m,3x3m disesuaikan dengan varietas kopi dan kemiringan areal yang akan ditanami.
2. Persiapan persemaian bibit kopi
a. Buat bedengan semai dengan ukuran 1mx2cmx10m(lebarxtinggixpanjang), kemudian bedeng semai diisi oleh tanah subur yang telak disaring/diayak supaya untuk mempermudah pertumbuhan akar dari biji kopi yang akan disemai. Setelah itu bedengan disiram air kemudian ditutup plastik transparan selama 2×24 jam guna mensterilkan bedeng semai dari jamur/spora yang terkandung didalam tanah.
b. Seleksi biji kopi, ini harus dilakukan untuk menekan presentase biji yang pertumbuhanya kurang maximal. Ketentuan syarat biji untuk bibit ; 1. Biji harus dipastikan berasal dari induk pohon yang sehat dan berproduksi dengan baik,2. Usia induk pohon kopi yang diperuntukan untuk bibit diharuskan sudah menginjak usia pohon 4-9 tahun.
c. Penyebaran biji dilakukan harus hati hati dan perlu ketelitian, karna ketika biji disebar di bedeng semai posisi biji harus dengan posisi telungkup dan jarak penyebaran biji dianjurkan 2x2cm untuk memudahkan pemeliharaan dan pemindahan ke polybag.Pemindahan bibit dari bedeng semai ke polybag dilakukan kurang lebih 60 hari dari terhitung biji kopi disebar di bedeng semai.
d. Kompos merupakan komponen yang sangat bagus sebagai media tumbuh kopi selama tumbuh di polybag sebelum ditanam dikebun kopi, adapun komposisi kompos yang ideal terdiri dari ; kulit kopi, pupuk kandang,daun daunan dan gabah padi. Pembuatan kompos itu sendiri memerlukan waktu kurang lebih 50-60 hari, setelah kompos terurai kemudian masukan kedalam plastik polybag ukuran 20x30cm dan lakukan pemindahan bibit kopi dari bedeng semai ke polybag yang sudah terisi kompos.
e. Rumah bibit/greenhouse, sebagai tempat penyimpanan bibit selama 6-12 bulan sebelum kopi ditanam di arel kebun.
f. Pemeliharaan bibit harus dilakukan secara intensip guna menghasilkan bibit kopi yang akan mampu tumbuh dan berproduksi dengan baik. Adapun hal2 yang perlu diterapkan adalah; penyiraman,pengidentifikasian kondisi bibit secara reguler dan pengobatan yang disesuaikan dengan kebutuhan bibit pada waktu kondisional.
g. Pemindahan bibit dari rumah bibit/greenhouse ke areal kebun. Ini diharuskan dengan memperhatikan iklim/cuaca, dianjurkan untuk penanaman saat musim penghujan.
3. Pemeliharaan tanaman kopi
a. Penyulaman dilakukan 4-6 minggu ketika usia bibit kopi ditanam di areal kebun, ini diperuntukan untuk mengganti tanaman yang pertumbuhanya kurang maximal atau mati.
b. Pemupukan dilakukan secara reguler disesuaikan dengan grafik pertumbuhan pohon kopi di areal kebun, dianjurkan 2-5 kg pupuk kandang dan rumput serasah yang dicampur/pohon setiap 4 bulan sekali. Tahap pemupukan bisa dilakukan bersamaan dengan proses pemangkasan rumput di areal kebun.
c. Pemangkasan pohon pelindung untuk penyeimbangan pencahayaan dan juga pemangkasan cabang kopi disekitar batang pohon yang sifatnya mengganggu pertumbuhan pohon kopi. Disamping itu kontrol rumput disekitar areal kebun kopi harus diperhatikan untuk menekan/meminimalisasi persaingan pertumbuhan pohon kopi.
d. Pengidentipikasian hama dan penyakit serta penangananya. Hama utama kopi yang dapat menurunkan produktipitas dan mutu kopi adalah hama penggerek buah kopi adalah Hypothenemus hampei ferr, gejalanya seranganya dapat terjadi pada buah kopi yang masih muda ataupun tua(masak), buah gugur mencapai 7-14% dan perkembangan buah menjadi tidak normal dan busuk sehingga produksi buah akan menurun sehingga tidak menghasilkan buah yang berkualitas.
Penyakit ini bisa dikendalikan dengan cara;
“Petik semua buah yang masak lebih awal (baik buah yang terserang maupun tidak), biasanya dilakukan pada 15-30 menjelang musim panen raya untuk mencegah terbangnya haha dan masuk ke buah yang lain. Pada saat menampung buah gunakan pelastik tertutup kemudian buah direndam kedalam air panas selama 5 menit untuk mematikan hama yang sudah masuk didalam buah, setelah itu gali lobang tanah sedalam 50 cm kemudian masukan dan kubur”.
4. Panen dan paska panen
a. Pemanenan buah kopi
Pemanenan buah kopi dilakukan dengan memetik buah kopi yang sudah masak. Penentuan kematangan buah ditentukan oleh perubahan warna kulit buah, kulit buah berwarna hijau tua ketika masih muda, berwarna kuning ketika sudah masak, dan berwarna merah ketika buah sudah masak, dan kehitam hitaman ketika masak terlampau (over rife).
Tanaman kopi tidak berbuah serentak dalam setahun karena itu ada beberapa cara pemetikan yaitu :
- Pemetikan pilih/selektip(petik merah) dilakukan pada buah yang sudah masak.
- Pemetikan setengah masak dilakukan pemetikan terhadap dompolan yang sudah masak.
- Pemetikan lelesan dilakukan terhadap buah kopi yang gugur karena terlambat pemetikan.
- Pemetikan racutan/rampasan merupakan pemetikan terhadap semua buah kopi yang masih hijau, biasanya dilakukan pada pemanenan akhir.
b. Pengolahan biji kopi
Pengolahan biji merah dilakukan dengan metode pengolahan basah dan semi basah, agar diperoleh biji kopi kering dengan tampilan yang bagus, sedangkan buah biji hijau kuning merah diolah dengan cara pengolahan kering.
Hal yang harus dihindari adalah, menyimpan buah kopi didalam karung pelastik atau sak selama lebih dari 12 jam, karena akan menyebabkan pra –fermentasi sehingga aroma dan citarasa biji kopi menjadi kurang baik dan berbau busuk.
Biji kpi dapat diolah dengan beberapa cara yaitu pengolahan secara basah, semi basah dan kering;
Pengolahan secara kering
Metode pengolahan cara kering banyak dilakukan ditingkat petani karena mudah dilakukan, peralatan sederhana dan bisa dilakukan ditiap tiap petani kopi.
Tahap-tahap pengolahan kopi cara kering
- Pengeringan
- Kopi yang sudah dipetik dan disortase harus segera mungkin dikeringkan agar tidak mengalami proses kimia yang bisa menurunkan mutu. Kopi dianggap kering apabila ketika diaduk terdengar bunyi gemericik.
- Beberapa petani mempunyai kebiasaan merebus kopi gelondong lalu dikupas kulitnya, itu harus dihindari karna dapat merusak kandungan zat yang terdapat pada buah kopi sehingga dapat menurunkan mutu buah kopi.
- Apabila intensitas matahari kurang maka bisa melakukan pengeringan dengan menggunakan alat pengering mekanis.
- Tuntaskan pengeringan sampai kadar air maximal mencapai 12 %.
- Pengeringan dapat memerlukan waktu 2-3 waktu dengan cara dijemur.
- Pengeringan dengan menggunakan mesin tidak diharuskan karena memerlukan biaya yang sangat mahal.
- Pengupasan kulit ( Hulling )
- Hulling pada pengolahan hulling kering bertujuan untuk memisahkan biji kopi dari buah, kulit tanduk dan kulit arinya
- Hulling digunakan dengan menggunakan mesin pengupas ( huller ). Tidak dianjurkan untuk mengupas kulit dengan cara menumbuk karena mengakibatkan banyak biji yang pecah. Beberapa tipe huller sederhana yang sering digunakan adalah huller putar tangan ( manual ), huller dengan penggerak motor, dan hummemil.
- Pengolahan Cara basah ( Fully Washed )
Tahap – tahap pengolahan cara basah terdiri dari :
- Pengupasan Kulit Buah
- Permentasi
- Pencucian
- Pengeringan
- Pengupasan Kulit kopi HS
- Pengolahan Cara Semi Basah ( Semi Washed process )
Pengolahan secara semi basah saat ini banyak diterapkan oleh petani kopi arabika di Anggroe Acah Darusallam. Sumatra Utara dan Sulawesi Selatan. Cara pengolahan tersebut menghasilkan kopi dengan cita rasa yang sangat khas, dan berbeda dengan kopi yang diolah secara basah penuh. Ciri khas kopi yang diolah secara semi basah ini adalah berwarna gelap dengan fisik kopi agak melengkung. Kopi arabika cara semi-basah biasanya memiliki tingkat keasaman lebih rendah lebih rendah dengan body lebih kuat dibanding dengan kopi oleh basah penuh.
Proses cara semi-basah dapat diterapkan untuk kopi Robusta.secara umum kopi yang diolah secara semi-basah mutunya sangat baik. Proses pengolahan secara semi-basah lebih singkat dibandingkan dengan pengolahan secara basah penuh.
- Proses tahapan pengolahan semi basah ;
- Ø pengupasan kulit buah
- Ø Pemeraman(fermentasi) dan pencucian
- Ø pengeringan awal
- Ø pengupasan kulit tanduk/cangkang
- Ø pengeringan biji kopi(beras kopi)
5. Sortasi (Pemisahan)
Sortasi buah
Sortasi buah dilakukan untuk memisahkan buah yang bagus ( masak, beragam) dari buah yang tidak bagud ( cacat hitam, pecah ,berlubang dan terserang hama atau penyakit). Kotoran seperti daun,ranting,tanah dan kerikil harus dibuang karna dapat merusak mesin pengupas.
Sortasi kopi biji beras
Sortasi biji kopi beras bertujuan untuk memisahkan biji kopi dari kotoran kotoran non kopi seperti serpihan daun, kayu atau kulit kopi. Selain itu untuk memisahkan biji kopi berdasarkan ukuran dan cacat biji. Pemisahan berdasarkan ukuran dapat menggunakan saringan/ayakan mekanis atau manual sedangkan untuk pemisahan biji cacat dilakukan secara manual.
6. Pengemasan dan penggudangan
ü Kemaslah biji kopi dengan menggunakan karung yang bersih dan kondisi bagus serta simpan tumpuka kopi dalam gudang yang bersih,bebas dari bau cemikal/kontaminasi lainya karena kopi sangat sensitip untuk menyerap bau yang ada disekitar lingkunganya.
ü Karung diberi label yang menunjukan jenis mutu dan identitas produsen. Cat untuk label harus menggunakan pelarut non minyak.
ü Atur tumpukan karung kopi diatas lantai/landasan kayu dan diberi batas antara dengan dinding gudang untuk membantu sirkulasi udara dalam penggudangan.
ü Monitoring penggudangan harus dilakukan intensip untuk mengetahui kondisi kadar air,kelembaban dan keamanan terhadap organisme gangguan(tikus,serangga,jamur dll) dan kondisi gudang diharuskan dalam kondisi bersih serta menjauhkan faktor faktor lain yang dapat merusak kondisi biji kopi.
7. Standarisasi
Standar mutu diperlukan sebagai petunjuk dalam pengawasan mutu dan merupakan perangkat pemasaran dalam menghadapi klaim/ketidakpuasan dari konsumen dan dalam memberikan saran saran kebagian pabrik dan bagian kebun. Standarisasi meliputi definisi,klarifikasi,syarat mutu,cara pengambilan sample/contoh,syarat uji,syarat penandaan dan cara pengemasan.
Pada prinsipnya penanganan pasca panen kopi harus memperhatikan keamanan pangan. Oleh karena itu harus harus dihindari terjadinya kontaminasi dari beberapa hal yaitu ;
ü Fisik(tercampur dengan benda asing selain kopi, misalnya rambut, kotoran dan lain lain)
ü Kimia(tercampur bahan bahan kimia)
ü Biologi(Tercampur jasad renik yang bisa berasal dari pekerja yang sakit,kotoran/sampah yang membusuk didekat lingkungan pengolahan kopi.
ü Usaha penanganan pasca panen kopi hendaknya melakukan pencatatan data yang terurut guna dijadikan databest sebagai referensi dalam pengembangan pengolahan kopi selanjutnya. Adapun data yang harus dicatat meliputi ;
ü Data bahan baku
ü Jenis produksi
ü Kapasitas produksi
ü Permasalahan yang timbul pada saat proses produksi